Volume 3 Edisi Pertama


MENGATASI BULLYING MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER

Rima Nor Kartika, S.Pd.

 (Wali Murid Al Abidin)

 

Era digitalisasi semakin berkembang pesat, segala sesuatu telah di mudahkan dengan
adanya teknologi yang super canggih. Hal ini tentu akan memberikan dampak
positif maupun negatif untuk perkembangan kepribadian pelajar. Dampak positif
yang ditimbulkan adalah manusia bisa mudah melakukan suatu pekerjaan, mudah
melakukan komunikasi, untuk mendapatkan informasi. Sedangkan dampak negatif perkembangan
teknologi ini adalah manusia menjadi kurang berinteraksi sosial, manusia
menjadi malas, dan banyak kasus berita hoax yang tersebar melalui
media. 

Masyarakat masih banyak yang menyalah
gunakan perkembangan teknologi, seperti misalnya banyak ujaran kebencian,
kejahatan hacker dan lebih parahnya lagi yaitu kasus bullying
melalui media sosial. Bullying merupakan masalah yg marak terjadi di
kalangan pelajar. Bullying artinya bentuk kekerasan atau penindasan yg
dilakukan dengan sengaja oleh individu ataupun kelompok yang lebih kuat terhadap
orang lain, dengan tujuan menyakiti yang dilakukan secara terus menerus. 

Berdasarkan data, masalah bullying
di Indonesia banyak terjadi di kalangan pelajar, Sebaran Kasus Bullying dalam FSGI 2023 Dari 30 kasus tersebut,
persebaran kasus terjadi di jenjang:

NO

Prosentase

Jenjang Sekolah

1.

50%

SMP/sederajat

2.

30%

SD/sederajat

3.

10%

SMA/sederajat

4.

10%

SMK/sederajat

 

Banyak
pelajar di Indonesia mengalami kasus bullying secara fisik serta mental.
Kasus bullying tidak terjadi secara langsung saja tetapi bullying
juga bisa terjadi secara tidak langsung contoh bullying di media sosial. Bullying
pada media sosial lebih menekankan ke fisik atau body shaming

Sebagai contoh kasus bullying dalam
media sosial adalah Ketika ada seorang yang menunjukkan sesuatu entah itu foto
atau video di media sosial yang memiliki warna kulit gelap atau badan yg gemuk,
maka para netizen akan membully mereka. Entah dengan komentar pedas,
sindiran, serta lain sebagainya. Sebagai akibatnya orang tersebut akan
merasakan insecure.

Insecure merupakan suatu
keadaan dimana seseorang merasa kurang percaya diri yang membuat seseorang tadi
merasa tidak nyaman. Saat korban mengalami bullying secara terus
menerus maka mereka akan mengalami gangguan mental, merasa sedih, kesepian,
akan cenderung menyendiri, menyakiti diri sendiri dan yang lebih fatal adanya
keinginan bunuh diri. Ketika kita berbicara tentang masalah bullying pasti
tidak ada habisnya, sebab masalah ini menjadi salah satu masalah yang sering
terjadi di kalangan Remaja. Namun kita masih ada harapan untuk menghilangkan
perilaku bullying dengan penanaman Pendidikan karakter.

            Pendidikan karakter merupakan suatu
sistem pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu
kepada peserta didik yang di dalamnya terdapat komponen pengetahuan, kesadaran
atau kemauan, serta tindakan untuk melakukan nilai-nilai tersebut.
Pendidikan
karakter (character education) sangat erat hubungannya dengan
pendidikan moral dimana tujuannya adalah untuk membentuk dan melatih kemampuan
individu secara terus-menerus guna penyempurnaan diri kearah hidup yang lebih
baik.

            Pendidikan karakter bertujuan
membantu individu untuk menjadi lebih cerdas secara emosional dan mendorong
individu untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam hal ini, Guru khusunya
Guru BK memiliki peran sentral dalam mendidik peserta didik menjadi seseorang
yang berkarakter mulia. Berikut beberapa cara di mana pendidikan karakter dapat
membantu mencegah perundungan di sistem pendidikan Indonesia:

1.
Pengembangan Empati dan Keterampilan Sosial: Pendidikan karakter membantu siswa
untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, mengajarkan
mereka pentingnya empati, serta mempromosikan keterampilan sosial yang sehat.
Siswa yang memiliki pemahaman yang baik tentang perasaan orang lain cenderung
lebih berempati dan kurang cenderung melakukan perundungan.

2.
Pengajaran Nilai-nilai Moral: Melalui kurikulum dan pengalaman di sekolah,
nilai-nilai moral seperti menghormati, toleransi, kejujuran, dan tanggung jawab
diajarkan. Hal ini membentuk landasan moral yang kuat bagi siswa dan membantu
mencegah perilaku perundungan.

3.
Pengembangan Keterampilan Kepemimpinan Positif: Melalui pelatihan kepemimpinan
dan pembentukan karakter, siswa diajarkan cara menjadi pemimpin yang baik dan
membawa perubahan positif. Siswa yang memiliki keterampilan kepemimpinan yang
baik cenderung mengurangi insiden perundungan dengan mempengaruhi lingkungan
sekitarnya secara positif.

4.
Pembentukan Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif: Sekolah yang menerapkan
pendidikan karakter secara konsisten membangun budaya yang mendorong keamanan,
inklusi, dan penghargaan terhadap perbedaan. Ini menciptakan lingkungan yang
lebih ramah bagi semua siswa dan mengurangi potensi terjadinya perundungan.

5.
Pengajaran Keterampilan Penyelesaian Konflik dan Penerimaan Diri: Pendidikan
karakter membantu siswa untuk belajar cara menyelesaikan konflik secara damai,
serta menerima dan menghargai perbedaan di antara mereka. Siswa yang merasa
lebih percaya diri dan mampu menyelesaikan konflik dengan cara yang konstruktif
cenderung tidak terlibat dalam perilaku perundungan.

Melalui
Pendidikan karakter ini nanti akan menyadarkan peserta didik untuk tidak
melakukan tindakan bullying dan membentuk kecerdasan emosional serta
karakteristik kepribadian peserta didik yang lebih baik.